Hape.bid

Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara

Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara | Hape Blog - Sesuai dengan judul artikel dari blog Hape Blog, untuk anda yang senang membaca atau belajar ataupun yang sedang mencari referensi Buku Online (eBook) yang berformat PDF atau format aplikasi reader lainnya, semoga artikel yang berjudul Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara dapat bermanfaat dan sesuai dengan apa yang anda cari, namun jika artikel ini belum sesuai dengan apa yang dicari, silahkan anda mencari dalam blog Hape Blog melaui kotak pencarian. Atau dapat menemukan artikel terkait Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara dalam kategori A, Ahmad Fuadi, Novel,. Bagi anda yang ingin mengunduh atau melanjutkan membaca artikel Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara. Lanjut ke paragraf berikutnya...

Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara


Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara
Pesan dari Masa Silam
Washington DC, Desember 2003, jam 16.00

Iseng saja aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh
permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin
segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik kerai
tipis di lantai empat ini, salju tampak turun menggumpalgumpal
seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukanketukan
halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca
di depanku. Matahari sore menggantung condong ke barat
berbentuk piring putih susu.

Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika
Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan
tonggak-tonggak besar. Kubah raksasanya yang berundakundak
semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan
kopiah haji. Di depan gedung ini, hamparan pohon american
elm yang biasanya rimbun kini tinggal dahan-dahan tanpa
daun yang dibalut serbuk es. Sudah 3 jam salju turun. Tanah
bagai dilingkupi permadani putih. Jalan raya yang lebar-lebar
mulai dipadati mobil karyawan yang beringsut-ingsut pulang.
Berbaris seperti semut. Lampu rem yang hidup-mati-hidupmati
memantul merah di salju. Sirine polisi—atau ambulans—
sekali-sekali menggertak diselingi bunyi klakson.

Udara hangat yang berbau agak hangus dan kering
menderu-deru keluar dari alat pemanas di ujung ruangan.
Mesin ini menggeram-geram karena bekerja maksimal. Walau
begitu, badan setelan melayuku tetap menggigil melawan
suhu yang anjlok sejak beberapa jam lalu. Televisi di ujung
ruang kantor menayangkan Weather Channel yang mencatat
suhu di luar minus 2 derajat celcius. Lebih dingin dari secawan
es tebak di Pasar Ateh, Bukittinggi.

DOWNLOAD FILES


DOWNLOAD NOW>

Penutup untuk postingan Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara, semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi pengunjung setia Hape Blog, sekedar himbauan untuk anda, bahwa apa yang dibagikan/ dipublikasikan blog ini merupakan hanya untuk edukasi, review, dan pengetahuan saja. Blog Hape Blog tidak bertanggung jawab atas penyalahgunaan atau pelanggaran sesuai hukum yang berlaku. Silahkan gunakan dengan bijak. Bila artikel ini bermanfaat silahkan bagikan kepada teman sosial media anda. Terima kasih